Minggu, 24 Mei 2009

PEDULI LINGKUNGAN mulai dari dalam lingkup rumah tangga

Isu global warning memang harus menjadi kepedulian semua pihak tanpa terkecuali. Karena sebagai penghuni planet ini, kita semua harus bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup semua makhluk Tuhan yang ada di bumi. Peduli terhadap lingkungan berarti juga peduli terhadap sesama dan generasi di masa mendatang. Betapa bencana yang terjadi akibat kerusakan lingkungan. Tidak hanya sekedar bencana alam, seperti banjir, tetapi juga bencana lain yang berdampak pada semakin buruknya kualitas hidup manusia. Munculnya banyak penyakit, kondisi cuaca dan alam yang semakin tidak seimbang, sulitnya mendapatkan air bersih dan lain sebagainya.
Kepedulian kita terhadap lingkungan bisa di mulai dari lingkup yang kecil yakni rumah tangga. Hal-hal yang kecil jika di lakukan secara terus menerus juga akan menghasilkan sesuatu yang besar. Tidak ada kata percuma untuk melakukan sesuatu yang baik meskipun itu sangat kecil, yang penting kita harus memulai dari diri kita sendiri. Rata Penuh
Apa yang bisa kita lakukan untuk peduli terhadap lingkungan dari dalam lingkup kecil rumah tangga? berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk kelestarian alam dan kelangsungan bumi ini.
  1. Pergunakan listrik seperlunya. Matikan jika memang sudah tidak di gunakan.
  2. Meminimalisir penggunaan plastik. Ingat plastik sangat sulit teruari. Selalu membawa kantong plastik ketika berbelanja. Selalu membawa botol air minum sendiri. Menggunakan botol dari kaca yang bisa digunakan berkali-kali dan lain sebagainya. Coba bayangkan, berapa plastik yang akan kita buang jika kita selalu mendapatkan kantong plastik saat berbelanja dalam sehari, sebulan , setahun. Dengan kita selalu membawa kantong plastik setiap berbelanja, kita sudah mengurangi pencemaran lingkungan.
  3. Meminimalisir penggunaan pampers pada bayi. Keinginan untuk praktis bagi masyarkat modern memang seringkali mengesampingkan ramah terhadap lingkungan. Pampers juga salah satu bahan yang sangat sulit terurai. Penggunaan pampers lebih baik diminimalisir dengan menggunakannya jika memang kondisi sangat diperlukan misalnya saat bepergian. Sebaliknya jika di rumah penggunaan pampers bisa di ganti dengan menggunakan popok kain yang di bungkus plastik dan bisa berkali-kali pakai dengan dicuci. Tidak hanya ramah terhadap lingkungan tetapi juga ramah terhadap finansial keluarga, disamping juga aman untuk bayi.
  4. Hemat air. Segera ganti kran air bocor. Kalaupun belum sempat mengganti, taruh ember di bawahnya untuk menampung air dari kran yang bocor tersebut. Setetes demi setetes air akan memenuhi ember tersebut, bahkan akan melebihinya. Bayangkan jika air tersebut tidak kita tampung, anda akan memerlukan berapa ember untuk menampungnya. Sementara di tempat lain banyak orang kekurangan air.
  5. Tanam pohon di lahan-lahan yang kosong atau di atas pot bagi yang tidak mempunyai lahan yang luas.
  6. Tidak menggunakan AC. tetapi ganti dengan kipas angis.
  7. Ajarkan kepada anak kita untuk mencintai lingkungan sejak dini. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya dan lain-lain.
  8. Kurangi penggunaan parfum.
  9. Pisahkan antara sampah basah dan kering, kalau memang bisa buatlah kompos dari sampah rumah tangga.
  10. Berusaha untuk tidak menggunakan bahan sekali pakai.
  11. Meminimalisir penggunaan motor atau mobil. Jika bepergian cukup motor mengapa harus memakai mobil? berapa banyak bahan bakar yang dapat kita hemat jika kita memakai motor. Jika kita bisa melakukan sesuatu di dalam rumah tanpa transportasi, mengapa harus keluar rumah?
Hal-hal di atas sangat mungkin bisa kita lakukan di dalam rumah dan mempunyai dampak yang luar biasa untuk lingkungan kita. Untuk itu mulai sekarang, mulailah dari kita sendiri. Sekali ingat, hal-hal kecil yang selalu kita lakukan secara konsisten akan mempunyai dampak yang sangat besar bagi kelangsungan kehidupan di bumi.

Sabtu, 23 Mei 2009

101 Alasan Berhenti Makan Daging

www.TetraGeography.co.cc

Dalam laporan PBB(FAO) berjudul Livestock’s Long Shadow: Enviromental Issues and Options (Dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa industri peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang paling tinggi (18%), jumlah ini melebihi gabungan dari seluruh transportasi di seluruh dunia (13%). PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 saja, padahal industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan air bersih. Peternakan melepaskan 9 % karbondioksida dan 37 % gas metana (23 kali lebih berbahaya dari CO2). Selain itu, kotoran ternak menyumbang 65 % nitrooksida (296 kali lebih berbahaya dari CO2), serta 64 % amonia penyebab hujan asam.

MASYARAKAT

  1. Di Inggris, mereka setiap tahun memberi makan ternak dalam jumlah yang cukup untuk memberi makan 250.000.000 orang, sementara di dunia ada 30.000.000 orang yang meninggal karena kelaparan.
  2. Bervegetarian dapat hidup dari hasil lahan yang setara dengan satu orang pemakan daging saja.
  3. Setiap 3 detik ada satu orang anak yang meninggal karena kelaparan di suatu tempat di dunia.
  4. Seandainya orang Amerika mengurangi konsumsi daging mereka hingga 10%, hal itu dapat menghemat 12.000.000 ton padi-padian yang cukup untuk memberi makan 60.000.000 orang ( jumlah penduduk Britania Raya ).
  5. Seandainya semua orang Amerika menjadi vegetarian, maka hal itu akan menghemat padi-padian yang dapat memberi makan 600.000.000 orang (jumlah penduduk India).
  6. Intensifikasi peternakan hewan telah memindahkan 1.000.000 penduduk dari tanah tradisional mereka, sebagai contoh orang-orang di Amerika Selatan & Tengah, penduduk asli Amerika di Amerika Selatan, dan di Britania Raya, hal ini masih berlanjut sampai hari ini.
  7. Orang-orang yang dipindahkan dari tanah asal mereka ke kota lain menderita kekurangan gizi, terkena berbagai macam penyakit, parasit, dan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
  8. Pada negara-negara dunia ketiga, 1 dari 10 bayi meninggal sebelum ulang tahun mereka yang pertama.
  9. Inggris mengimpor gandum yang setara dengan £46.000.000 dari negara-negara dunia ketiga sebagai pakan untuk ternak.
  10. Karena beternak yang berlebihan, 850.000.000 orang yang tinggal di daratan terancam oleh penggurunan (tanah subur berubah menjadi gurun pasir) dan lebih dari 230.000.000 sudah tinggal di daratan yang berpadang pasir sehingga tidak dapat mempertahankan kehidupan mereka serta menghadapi kelaparan sebentar lagi.
  11. 1.000.000.000 orang di belahan bumi barat suka makan daging, susu, dan produk turunannya dengan rakus serta meninggalkan 1.000.000.000 lainnya untuk dibuang serta 3.500.000.000 lainnya juga menunggu saatnya disia-siakan.
  12. Jika mereka terus menghilangkan hutan Amerika untuk membesarkan ternak dengan kecepatan sekarang, maka dalam 50 tahun ke depan tidak akan ada hutan yang tersisa.
  13. Tanah seluas 4000 m2 hanya dapat menghasilkan 75 kg daging sapi, tetapi sebaliknya jika ditanam kentang maka dapat menghasilkan 9080 kg kentang.
  14. 80% tanah yang ditanami di Inggris dipakai untuk menanam makanan ternak (14.732.000 ha ).
  15. Dibutuhkan 8 kg protein kedelai untuk menghasilkan 0,5 kg daging.
  16. Sejak tahun 1945, di Inggris telah kehilangan 95% padang rumput berbunga, 50% daerah hutan liar, 40% wilayah segar, 50% wilayah basah, dan 224.000 km pagar tanaman, semuanya disebabkan oleh peternakan hewan.
  17. Tekanan pada tanah karena peternakan hewan potong menyebabkan erosi tanah sebanyak 6 milyar ton/tahun di Amerika.
  18. Jika setiap orang bervegetarian maka hingga 90% tanah yang dipakai untuk peternakan hewan bisa diambil-alih untuk wilayah hutan, ruang terbuka untuk kegiatan santai, dll.
  19. Sejak tahun 1960, sekitar 25 % hutan di Amerika tengah telah dimusnahkan untuk lahan pemeliharaan ternak.
  20. Antara tahun 1966 sampai dengan tahun 1983, 38% dari hutan hujan di Amazon dimusnahkan untuk lahan pemeliharaan ternak.
  21. 90% dari lahan peternakan sapi yang didirikan menyebabkan pembabatan hutan yang serius selama 8 tahun terakhir. Lahan tersebut kemudian menjadi tandus karena hilangnya kesuburan akibat beratnya beban lingkungan untuk memelihara ternak.
  22. Penggembalaan ternak merusak tanah dan meningkatkan pembentukan padang pasir. Sekitar 2,08 tiliun m2 tanah di AS saja telah menderita pengurangan hasil panen sebesar 25-50% sejak penggembalaan yang pertama.
  23. Satu inci lapisan tanah teratas memakan waktu 200-1000 tahun untuk terbentuk - tetapi di AS mereka telah kehilangan 1/3 dari lapisan tanah teratas utamanya dalam 200 tahun ini (sekitar 7 inci) karena peternakan hewan.
  24. Tanah akan hilang karena kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global karena dampak peternakan hewan.
  25. Penghancuran hutan oleh para peternak sapi telah merusak paru-paru dunia serta mengurangi daya tahan dunia untuk mengisi ulang persediaan oksigen kita.
  26. Sejumlah 1.300.000.000 ekor sapi di dunia telah melepaskan 60.000.000 ton gas metana setiap tahunnya (gas metana adalah gas rumah kaca dan penyebab pemanasan global).
  27. Pembakaran hutan, padang rumput, serta ladang pertanian yang tandus berhubungan dengan perternakan hewan yang juga melepaskan gas metana sebesar 50 sampai 100.000.000 ton setiap tahunnya.
  28. Dengan menggabungkan angka-angka ini, 25% dari emisi gas metana disebabkan oleh peternakan hewan (tidak termasuk milyaran kambing, babi dan ayam, jadi angka yang sebenarnya adalah jauh lebih tinggi).
  29. Pupuk yang dipergunakan sebagai penyubur tanaman untuk pakan ternak mengeluarkan nitrogen oksida - diperkirakan menyumbang 6% dari efek gas rumah kaca.
  30. Pupuk, obat pembunuh rumput-rumputan, dan pestisida yang disemprotkan pada tanaman ikut masuk ke atmosfer dan menciptakan campuran karsinogenik yang berbahaya.
  31. CFC banyak dilepaskan ke udara dari pendingin yang digunakan untuk menyimpan daging, susu, dan mentega. CFC dapat merusak lapisan ozon.
  32. Amonia yang berasal dari air seni hewan juga mencemarkan atmosfer.
  33. CO2 banyak dilepaskan dari pembakaran minyak dan bensin pada truk, kapal laut, rumah jagal, perusahaan susu, pabrik dan lainnya yang berkaitan dengan produksi daging maupun perusahaan susu.
  34. Emisi dari industri-industri besar yang bergerak di bidang produksi pupuk kimia, obat pembunuh rumput liar, dan bahan kimia pertanian lainnya juga akan meracuni udara kita.
  35. 25 galon air dapat memproduksi ½ kg gandum, sedangkan untuk menghasilkan ½ kg daging diperlukan 2500 galon air.
  36. Hewan ternak Inggris memproduksi 200.000.000 ton tinja setiap tahunnya, yang sebagian besar berakhir di sungai-sungai kita.
  37. Air buangan yang banyak mengandung darah dari tempat penjagalan berakhir di sungai kita.
  38. Di Amerika Serikat manusia menghasilkan kotoran seberat 6.000 kg setiap detiknya sedangkan hewan ternak menghasilkan seberat 125.000 kg.
  39. Nitrat dan pestisida yang digunakan pada tanaman untuk makanan ternak, berakhir di sungai kita.
  40. Peternakan daging dan susu di Inggris menggunakan 70 liter air per hari per hewan atau 159.250.000. 000 liter air per tahun secara total.
  41. Air yang digunakan untuk memproduksi 5 kg daging bistik setara dengan penggunaan air untuk seisi anggota rumah tangga selama setahun.
  42. Pemakaian air bawah tanah untuk menanam tumbuhan bagi konsumsi hewan serta untuk penyediaan air bagi tempat-tempat penjagalan dapat mengakibatkan kekurangan air yang lebih parah.
  43. Penyimpanan air tanah di lembah San Joaquin di Amerika Serikat mengalirkan 500.000.000. 000 galon air per tahun untuk menghasilkan daging.
  44. 18% dari tanah pertanian di dunia memakai sistem irigasi dan karena pemanasan global meningkat yang sebagian diakibatkan oleh peternakan hewan, maka dana yang dibutuhkan untuk membuat sistem ini berjalan sebesar $200.000.000.
  45. Air yang digunakan untuk menghasilkan 500 kg daging sapi cukup untuk dapat mengapungkan sebuah kapal perang.
  46. Limbah cair dari berbagai bagian industri daging dan susu mengalir ke dalam sungai dan membuat polusi hingga ke laut, serta dapat membuat alga berkembang biak secara besar-besaran.
  47. Untuk menghasilkan satu kalori energi daging saja membutuhkan 60 kalori bensin, sedangkan jika kita menanam biji-bijian dan kacang-kacangan untuk memberi makan manusia secara langsung, maka setiap satu kalori bahan bakar dapat menghasilkan 20 kalori (berarti 1200 kali lebih efisien).
  48. Peternakan daging dan susu menggunakan miliaran galon minyak untuk menjalankan traktor, bahan bakar kapal dan truk untuk alat transportasi hewan ternak dan makannya, memompa miliaran galon air untuk irigasi sawah dan menjalankan usaha rumah jagal, energi listrik untuk pendingin agar bahan-bahan tersebut tidak membusuk, serta sistem saluran pembuangan limbah untuk membersihkan beberapa polusi yang dihasilkan.
  49. Ternak hanya mengubah 6% energi yang dimakannya (terutama padi-padian dan kacang kedelai) menjadi daging, sisanya 94% terbuang sebagai panas, pertumbuhan bulu, tulang, kotoran, gerakan (itulah mengapa banyak ternak yang dipelihara di kandang yang sangat sempit), dan sebagainya.
  50. Untuk menghasilkan ½ kg daging sapi diperlukan 1 galon bensin.
  51. Sebuah keluarga yang beranggotakan empat orang, jika mereka makan daging sapi dalam setahun maka bensinnya cukup untuk menjalankan sebuah mobil selama 6 bulan (tergantung seberapa jauh Anda mengemudi!).
  52. Jika seluruh kerugian lingkungan karena daging dibebankan kepada kosumen maka harganya paling sedikit akan menjadi empat kali lipat.
  53. EC menghabiskan $100.000.000 untuk menyubsidi produksi hewan yang mengakibatkan berdanau-danau susu yang dibuang karena tidak dikehendaki dan bergunung-gunung daging serta mentega yang tidak dikehendaki. Uang ini bisa digunakan dengan lebih baik untuk mendukung produksi buah, sayuran, dan biji-bijian organik.
  54. Pada tahun 1979 di AS ada 145.000.000 ton hasil bumi yang dijadikan makanan ternak yang hanya menghasilkan 21 juta ton tubuh hewan - biaya dari hasil bumi yang disia-siakan ini berjumlah $20.000.000.000.
  55. Antara tahun 1950 dan 1985, produksi gabah/padi di Eropa dan AS meningkat secara besar-besaran namun 2/3 darinya digunakan sebagai makanan ternak.
  56. 70% dari keseluruhan gabah/padi digunakan sebagai makanan ternak.
  57. Memakan daging hewan, telur, susu, dan mentega dalam jumlah yang sangat besar adalah suatu kemewahan dan tidak dapat ditanggung oleh sebagian besar planet.
  58. Memancing dengan jala yang digerakkan mesin pendorong atau alat modern lainnya telah merusak dan menghancurkan ekosistem secara membabi buta serta membunuh milyaran mahkluk laut maupun merusak dasar laut.
  59. Jala dari para pemancing dapat membunuh hewan lainnya hingga 10 kali lipat dari ikan yang ingin ditangkap.
  60. Ikan yang tertangkap jala mati lemas secara pelan-pelan dan sangat menderita.
  61. Setiap tahun 15.000.000.000 hewan ternak dipotong untuk makanan, begitu juga hewan laut yang ditangkap dalam jumlah yang tidak diketahui tapi diperkirakan lebih besar lagi jumlahnya (termasuk di antaranya 1000 ikan lumba-lumba yang secara tidak sengaja tertangkap).
  62. Ayam-ayam dikurung di dalam kandang yang sangat sempit hingga 3 ekor lebih, mereka bahkan tidak dapat melebarkan sayapnya dan yang lainya bahkan tidak dapat berdiri.
  63. Anak ayam jantan yang tidak diinginkan (karena mereka tidak dapat bertelur) dibinasakan dengan gas atau digiling sampai hancur. Sementara anak ayam betina digiring ke dalam kandang-kandang yang sempit.
  64. Anak-anak ayam dipotong paruhnya tanpa pembiusan untuk mencegah mereka saling mematuk satu sama lain karena mereka dimasukkan ke dalam kandang yang sangat kecil. Hal ini sama saja dengan mencabut kuku Anda tanpa pembiusan.
  65. Metode peternakan modern menggunakan hormon penumbuh daging dan sinar buatan untuk membesarkan anak ayam yang membuat banyak ayam yang tumbuh melampaui kapasitas pertumbuhan tulangnya sehingga mengakibatkan tulang mereka rapuh dan kaki mereka patah.
  66. Induk-induk babi dikurung dalam kandang seluas 1,3 meter x 1 meter di lantai beton atau logam, mereka bahkan tidak bisa memutarkan tubuhnya.
  67. Hewan ternak yang dibesarkan untuk dagingnya ditempatkan di kandang tanpa jendela, dengan jumlah 20-30.000 dalam setiap kandang, mereka hidup di area seluas 10-20 cm2 dan karena terlalu sesak mereka saling menyerang seperti unggas-unggas aduan sehingga mereka seringkali menderita luka kulit yang bernanah.
  68. Kandang ayam pedaging dinyalakan lampunya selama 23 jam sehari untuk mengasilkan pertumbuhan yang pesat.
  69. Para hewan dibawa dari peternakan ke rumah jagal dengan transportasi yang penuh sesak dan tanpa makanan maupun air sehingga menimbulkan stres, luka-luka, dan kematian. Persyaratan resmi yang ada seringkali diabaikan.
  70. 95% hewan ternak menderita luka-luka sebelum akhirnya dibunuh dan 30% di antaranya menderita patah tulang.
  71. Masalah yang mengerikan adalah ada banyak hewan yang digorok lehernya pada saat mereka masih sadar (sekitar 6% atau 200.000 sapi per tahun) atau dimasukkan ke dalam tangki berisi air mendidih (untuk menghilangkan bulu-bulu halus dan keras mereka) ketika mereka masih penuh dengan kesadaran.
  72. Setiap menit ada 4000 ekor hewan yang mati di rumah jagal Inggris dan mereka mati dengan menyemburkan darah.
  73. Kulit sapi didapatkan dari sapi-sapi muda yang dibunuh ketika mereka berusia 2 minggu.
  74. Sapi dibesarkan dengan makanan yang berasal dari sisa makanan sapi atau domba lain. Sapi di peternakan AS diperkirakan terkena BSE (penyakit sapi gila) karena diberi makan pelet (berbentuk butiran) dari makanan hasil daur ulang.
  75. Sapi hanya menghasilkan susu 10 bulan setelah mereka mempunyai anak – tetapi mereka secara rutin diberikan suntikan buatan (cth. diperkosa dengan mesin) untuk membuat mereka tetap hamil dan menyusui – anak-anak mereka selalu diambil (biasanya ketika berumur 12 jam) untuk diambil dagingnya sebagai daging sapi muda.
  76. Sapi secara alami dapat hidup lebih dari 20 tahun tetapi mereka dibantai setelah 5 sampai 7 tahun ketika produksi susu mereka mulai berkurang.
  77. Di Inggris, hewan dibunuh dengan menggunakan listrik atau dengan gulungan senapan untuk tahanan ( ie. Gulungan ditembakkan ke kepala mereka) sebelum menggorok leher mereka dan dicelupkan ke dalam air mendidih - semua ini terjadi pada proses produksi dimana hewan dinaik-turunkan dengan memakai alat pembawa barang – ini terjadi di pabrik peternakan.
  78. “Hewan adalah korban dan budak paling tidak beruntung dari tindakan kekejaman umat manusia” - John Stewart Mill (ahli filsafat).
  79. Anak sapi dikurung di kandang yang gelap, mereka tidak dapat bebas bergerak dan diberi makan darah babi, coklat, serta susu yang telah mengering (sementara kita minum susu segar yang melimpah dari induknya).
  80. Sapi secara alami biasanya menghasilkan 5 liter susu per hari untuk anak-anaknya, tetapi di bawah sistem peternakan modern yang intensif, mereka menghasilkan 25-40 liter susu per hari sehingga mengakibatkan kantung susunya meradang dan membengkak, dengan demikian mereka mudah menjadi letih.
  81. Kawasan daratan yang luas dijadikan lahan menanam satu jenis tanaman untuk memberi makan ternak – kawasan ini secara perlahan berubah menjadi padang gurun yang kelak hanya dapat menyangga sedikit spesies.
  82. Vegetarian dapat menurunkan tingkat kematian sebesar 20% dari segala penyebabnya (contoh: mereka hidup lebih lama dan tidak sering sakit).
  83. Daging penuh dengan residu antibiotik, hormon, dan racun yang diproduksi karena tekanan, serta sisa pestisida yang terkumpul dari tanaman panen yang mereka makan.
  84. Ikan mengandung logam berat dan polutan lainnya yang kebanyakan berasal dari polusi air.
  85. Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan diet yang rendah lemak, gula, dan garam; mereka menyarankan makanan yang penuh dengan serat - persis seperti apa yang kita dapatkan dalam makanan vegan/vegetarian.
  86. Hewan ternak mengandung hingga 50% lemak jenuh di dalam tubuhnya.
  87. Para vegetarian berkurang terkena resiko penyakit jantung sebesar 24%, sedangkan Para Vegan berkurang 57% (penyakit jantung adalah pembunuh tertinggi di Inggris hingga 50% kematian).
  88. Kegemukan jarang ditemui di kalangan vegetarian, sedangkan kegemukan berhubungan erat dengan banyak penyakit.
  89. Para vegan dan vegetarian memiliki tingkat tekanan darah serta tingkat kolesterol yang lebih rendah – tekanan darah dan tingkat kolesterol yang tinggi berhubungan dengan penyakit jantung, stroke, serta kegagalan ginjal.
  90. Para vegetarian berkurang terkena resiko kematian akibat diabetes sebesar 50%.
  91. Para vegetarian memiliki 40% lebih kecil terkena resiko kanker dibandingkan dengan populasi pada umumnya, hal ini diperkiraan karena para vegetarian memperoleh asupan vitamin A, C, dan E yang lebih tinggi.
  92. Para vegetarian memiliki resiko terkena penyakit empedu dan batu ginjal yang lebih kecil.
  93. 80% faktor keracunan makanan disebabkan oleh daging yang terinfeksi (kotoran, bakteri, dsb). Selain itu, daging adalah bangkai yang telah busuk, di dalamnya banyak bakteri salmonela yang juga ditemukan dalam telur.
  94. Osteoporosis adalah kehilangan kalsium dari tulang, hal ini terutama disebabkan oleh kandungan sulfur dari daging dan protein kasein dari susu yang menyebabkan hilangnya kalsium sewaktu kita buang air kecil. Negara dengan konsumsi daging dan produk susu tertinggi penduduknya juga mengalami tingkat kerapuhan tulang yang tertinggi.
  95. 50% dari manusia tidak mempunyai enzim untuk mencerna susu dengan baik, selain itu alergi terhadap susu dapat menyebabkan ashma dan eksim.
  96. Pemakan daging mempunyai resiko ganda terhadap penyakit Alzheimers dibandingkan dengan para vegan dan vegetarian - beberapa orang juga merasa bahwa penyakit Parkinson juga berhubungan dengan makan daging.
  97. Kuning telur penuh dengan konsentrasi lemak jenuh dan putih telur penuh dengan protein albumen yang berhubungan dengan larutnya kalsium ke dalam urine kita. Mentega mengandung 80% lemak jenuh, kream mengandung 40% lemak jenuh, dan keju mengandung 25-40% lemak jenuh.
  98. Pemakan daging cenderung dua setengah kali terkena resiko penyakit kanker usus dibandingkan para vegetarian.
  99. Plastik pembungkus yang biasanya digunakan untuk membungkus daging di supermarket dan tempat penjualan daging mengandung unsur kimiawi yang dapat mengakibatkan mandulnya sperma pada pria.
  100. Orang China Daratan (yang kebanyakan hidup dengan diet vegetarian) mengonsumsi 20% lebih banyak kalori dibandingkan dengan orang Amerika, tetapi orang Amerika 20% lebih gemuk.
  101. Dari 2.100.000 kematian yang terjadi di AS pada tahun 1987, sebanyak 1.500.000 kematian dikarenakan masalah pola makan (misalkan daging & susu).

DAN INI DAPAT TERUS BERTAMBAH !
Jika Anda sudah membaca sampai sejauh ini maka saya berharap agar Anda mulai mengerti bahwa industri Daging & Susu merupakan penyebab utama kesengsaraan planet ini. Mereka merusak kesehatan penduduk di negara-negara kaya, mengakibatkan kelaparan di negara-negara miskin, menyiksa dan membunuh milyaran hewan setiap tahun, selain itu mereka merupakan salah satu faktor utama kerusakan lingkungan – jadi apa yang dapat dikatakan industri daging & susu untuk membela diri?

Baiklah, satu-satunya kemenangan mereka adalah “Daging enak” – cukup adil bagi banyak orang yang menyukai kelezatan daging – tetapi masih ada banyak pilihan lain yang lebih lezat (pertimbangkanlah aneka masakan vegetarian India – salah satu seni memasak kuno yang paling muktahir di dunia) dan jika Anda benar-benar kecanduan daging & susu, sekarang ada banyak pilihan yang sehat tanpa produk hewani – cari saja di supermarket dan toko makanan kesehatan. Jadi sangatlah menyedihkan jika Anda telah mengetahui segala bukti lalu hanya berkata “Baiklah saya tahu, Anda benar soal lingkungan, kesehatan, dan hewan – tetapi saya tetap menyukai daging.”


Menyimpan dan Menyajikan ASI Perah

http://www.infobunda.com/pages/articles/artikelshow.php?id=168

Dengan kesibukan Bunda yang padat, bukan berarti Bunda tidak bisa memberikan ASI untuk si kecil. Masih ada cara lain kok Bun, yaitu dengan memberikan ASI perah. ASI perah adalah ASI yang diperas dari payudara, disimpan dan diberikan pada bayi saat Bunda di kantor. Jangan khawatir soal kualitas, dr. Martina Claudia, SpOG dari Siloam Hospital menjelaskan ASI yang diberikan dari payudara atau pun tidak tetap memiliki kualitas yang sama. “Yang terpenting Bunda harus tahu bagaimana cara menyimpan dan penyajiannya.” tambahnya.

Hal-hal yang harus Bunda perhatikan :
  • ASI yang disimpan dalam suhu ruangan bisa tahan 4-6 jam. Untuk ASI yang disimpan dalam lemari es mampu bertahan sekitar 2-3 hari. Kalau berpergian cukup lama, Bunda bisa memanfaatkan freezer sehingga ASI bisa tahan hingga 2-3 bulan.
  • Jika menemukan tanda-tanda seperti ; bau yang berbeda (asam), tampak bergumpal dan warnanya lebih pekat, itu menandakan ASI sudah rusak. Segara buang dan ganti dengan ASI yang masih bagus. Kalau tak sengaja diberikan efek yang muncul bayi bisa mencret.
  • Setelah selesai memerah dan menyimpannya dalam plastik gula, tandai tanggal pemerahan. Sehingga Bunda tahu ASI mana yang seharusnya digunakan terlebih dahulu.
  • Jangan panaskan ASI di atas api yang bisa membuat enzim penyerapan mati kepanasan. Cukup letakkan ASI ke dalam mangkuk berisi air hangat (± 82 derajat celcius) supaya suhu ASI mendekati suhu tubuh Bunda.
  • Disarankan untuk memberikan ASI perah dengan menggunakan sendok, bukan botol susu. Hal ini untuk menghindari bayi bingung puting. Bingung puting adalah keadaan di mana bayi merasa bingung karena sebelumnya ia menyusu lewat payudara dan tiba-tiba harus menyusu dengan botol susu. Selain itu, karena ASI yang keluar dalam botol lebih mudah dibanding payudara, si kecil bisa malas mengisap saat menyusu kembali di payudara Bunda.
Kini kebutuhan ASI si kecil terpenuhi, dan Bunda tetap bisa bekerja. Ayo semangat lagi menyusui si kecil!

Minggu, 03 Mei 2009

FAKTA KONTROVERSIAL tentang SUSU SAPI

http://forum.detik.com/showthread.php?t=90882

Ini informasi yang sangat bermanfaat untuk bisa kita jadikan bahan pertimbangan, karena memang sangat berbeda dengan yang selama ini telah percaya...
* Tidak ada makanan lain yang lebih sulit di cerna daripada susu (sapi)
* Kasein yg membentuk kira-kira 80% dari protein yang terdapat dalam susu, langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung sehingga menjadi sangat sulit di cerna.
* Komponen susu yang di jual di toko telah dihomogenisasi dan menghasilkan radikal bebas
* Susu yang dipasteurisasi tidak mengandung enzim-enzim yang berharga, lemaknya teroksidasi dan kualitas proteinnya berubah akibat suhu yg tinggi
* Susu yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus
* Jika wanita hamil minus susu (sapi), anak-anak mereka cenderung lebih mudah terjangkit dermatitis atopik (Penyakit radang kulit yang parah)
* Minum susu terlalu banyak sebenarnya menyebabkan osteoporosis..

"....kadar kalsium dalam darah manusia biasanya terpatok pada 9-10 mg. Namun, saat minum susu, konsetrasi kalsium dalam darah anda tiba-tiba meningkat. Walaupun sepintas hal ini mungkin terlihat seperti banyaknya kalsium telah terserap,namun peningkatan jumlah kalsium dalam darah ini memiliki sisi buruk. Ketika konsentrasi kalsium dalam darah tiba-tiba meningkat, tubuh berusaha untuk mengembalikan keadaan abnormal ini menjadi normal kembali dengan membuang kalsium dari ginjal melalui urine. Dengan kata lain, jika anda mencoba untuk minum susu dengan harapan mendapatkan kalsium, hasilnya sungguh ironis, yaitu menurunya jumlah kalsium dalam tubuh Anda secara keseluruhan. Dari empat negara penghasil susu ter besar - AMERIKA, SWEDIA, DENMARK & FINLANDIA - di negara yang banyak sekali mengkonsumsi susu setiap harinya, ditemukan banyak kasus retak tulang panggul dan osteoporosis....."

Sumber : Buku "The Miracle of Enzyme" (Dr.Hiromi Shinya, MD)
Guru besar/Profesor Klinis Pembedahan di Alert Einstein College Of Medicine New York City dan Kepala Unit Endoskopi Bedah di Beth ISRAEL Medical Center.

"Penyakit bukanlah kutukan Tuhan, melainkan akumulasi kebiasaan makan kita selama bertahun-tahun dan buku ini Membuka paradigma baru tentang diet dan pola hidup sehat"
Dr.dr Siti Fadilah Supari, Sp.JP Menteri Kesehatan RI

Tersedia di Gramedia - Top Record 2 Juta KOPI Terjual

------------------------------------------------------------
SUSU TIDAK LAGI MENJADI MINUMAN YANG BER KHASIAT

John Robbins - menyatakan dalam bukunya yang berjudul �Diet for a New America: How Your Food Choices Affect Your Health, Happiness and the Future of Life on Earth, menyatakan daging, telur dan produk susu sebagai �3 makanan yang paling memudaratkan�

Penduduk di Finland atau US menghadapi resiko tinggi untuk penyakit osteoporosis, kanker prostate dan kanker ovari berbanding dengan negara-negara lain.

Penelitian-susu mempunyai banyak kekurangan � Para Ahli Gizi tidak menyarankan susu untuk bayi.

Dia menerbitkan buku yang telah mendapat Penghargaan Pulitzer, �Diet for a New America� pada tahun 1987 dalam upaya membeberkan kekejaman di pabrik peternakan dan mendorong orang lain untuk menerapkan pola makan nabati. Dalam jangka waktu lima tahun setelah penerbitan bukunya, penjualan daging sapi di Amerika Serikat menurun hingga mencapai 20%

John Robbins - Satu-satunya pewaris Jaringan Es Krim Terbesar di dunia BASKIN ROBIN, namun menolak untuk mendapatkan warisan tersebut di sebabkan BELIAU Melihat Bahayanya makanan tsb..

Semoga informasi ini bermanfaat..

HATI-HATI terhadap DOKTER...!!!

Tulisan ini bisa menjadi motivasi kita untuk selalu bersikap kritis termasuk kepada dokter dan dunia medis yang mungkin sangat asing bagi kita....

Billy N. <billy@konsulsehat.web.id>

halo rekan-rekan...

Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah). Link-nya di situs Kompas:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/...an.polifarmasi

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah 'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu.

Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus & pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.

Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak.

Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.

Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat.

Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'.

Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya hitung.

Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah 'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visite.

Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi racun di tubuhnya.

Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.

Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.

rgds
Billy

Minggu, 26 April 2009

Posyandu..posyandu.....

Sebulan sekali biasanya kegiatan posyandu diadakan di kampung atau kelurahan. Kegiatan yang rutin di lakukan adalah penimbangan balita dan pemberian makanan tambahan. Didirikannya posyandu memang sangat bermanfaat terutama bagi balita untuk memonitor perkembangan gizi balita, tidak hanya bagi daerah-daerah yang kurang terjangkau oleh fasilitas kesehatan yang memadai tetapi bagi masyarakat miskin baik di kota maupun didesa yang sulit untuk mengakses kesehatan. Namun demikian, kegiatan posyandu di berbagai tempat hanya terpaku pada penimbangan bayi dan pemberian makanan tambahan, Sehingga kurang dimaksimalkan menjadi suatu pos kesehatan yang bisa diakses tidak hanya oleh balita tetapi juga oleh orang yang membutuhkan akses kesehatan secara murah. Padahal seharusnya posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat penimbangan balita tetapi lebih dari poyandu juga seharusnya bisa melayani imunisasi, KB serta melayani orang yang sakit.

Di tempat saya tinggal yang notabene di daerah perumahan dengan tingkat kesadaran terhadap kesehatan cukup tinggi, kegiatan posyandu juga masih terpaku pada penimbangan dan pemberian makanan tambahan bagi balita. Meskipun pelayanan kesehatan sudah sangat bisa diakses oleh warga perumahan, tetapi sebenarnya penting juga dilakukan posyandu semacam obrolan dan komunikasi dari para kader posyandu dengan para ibu-ibu seputar kesehatan, imunisasi, Kb dan lain sebagainya, karena sebagaimana di ketahui persoalan kesehatan selalu saja berkembang.

Persoalan makanan tambahan bagi balita juga menjadi persoalan yang cukup penting bagi saya. Bagaimana tidak, terkadang makanan yang diberikan kepada balita adalah makanan instant seperti wafer, susu kotak dengan berbagai macam rasa dan lain sebagainya. Sebaliknya jarang sekali buah-buahan diberikan sebagai makanan tambahan, padahal buah-buahan selain murah juga jelas mengandung gizi yang tinggi.

Memang paradigma berfikir masyarakat kita saat ini selain sudah salah kaprah, juga serba instant. Sehingga untuk merubah kembali mind set tentang makanan sehat memang butuh waktu. Pemberian makanan seperti wafer sudah dianggap sebagai makanan yang bergizi karena dianggap terbuat dari susu, padahal jelas didalamnya banyak campuran bahan yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh tubuh, apalagi untuk balita. Makanan tradisional yang sebenarnya lebih bergizi tidak lagi dilirik karena kalah gengsi dan mulai banyak tidak disukai anak-anak. Lembaga-lembaga medis serta jajarannya berikut yang terkait dengannya, seharusnya mempunyai pandangan yang sudah lebih maju tentang makanan sehat. Seringkali makanan sehat yang diasumsikan adalah makanan yang mengandung susu seperti roti, biscuit dan turunannya. Bukan makanan segar dan alami. Dengan demikian, pemberian makanan tambahan bagi balita di posyandu dengan memberikan wafer dan susu beraneka rasa, secara tidak langsung telah mengajarkan kepada masyarakat bahwa makanan tersebut adalah makanan yang kaya gizi dan baik dikonsumsi oleh siapapun termasuk balita. Padahal susu sapi saat ini telah disadari sebagai penyebab banyaknya problem bagi balita, sehigga gerakan kembali ke ASI kembali didengungkan dimana-mana. Selain itu, makanan-makanan instant yang membanjiri pasar Indonesia juga jelas-jelas banyak mengandung bahan kimia yang tidak baik bagi tubuh. Artinya, selama pemahaman tentang makanan sehat seperti itu, maka jangan heran jika generasi Indonesia yang akan datang menjadi generasi yang tidak sehat dan tentu saja berdampak pada kurangnya kualitas diri mereka.

MENGAKTIFKAN KEMBALI POSYANDU

Persoalan gizi buruk serta kematian ibu dan atau bayi saat melahirkan adalah salah satu persoalan yang senantiasa kerap menyelimuti bangsa kita. Rendahnya akses terhadapa lembaga kesehatan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah-daerah terpencil adalah salah satu penyebab utama munculnya persoalan tersebut. Di samping itu, tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi namun tanpa dibarengi dengan kesejahteraan hidup yang merata juga menjadi penyebab tidak langsung bagi terjadinya kasus gizi buruk anak. Karena itu, pemerintah meletakkan masalah kesehatan ibu dan anak ini sebagai masalah yang perlu penyelesaian secara serius.

Salah satu upaya serius pemerintah untuk mengurangi angka kematian bayi dan kasus gizi buruk ini adalah dengan pembentukan apa yang kemudian dikenal dengan POSYANDU (Pos Pelayanan Terpadu). Posyandu ini pertama kali dibentuk oleh pemerintahan orde baru di bawah kepemimpinan presiden Soeharto pada tahun 1984. Visi dan misi pembentukan Posyandu ini adalah sebagai perwujudan peran serta masyarakat dalam mencapai pelayanan kesehatan yang lebih baik. Namun secara khusus, pembentukan Posyandu bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, menurunkan angka gizi buruk balita dan anak, serta mempermudah pelayanan KB (keluarga berencana). Dengan demikian, sasaran utama dari kegiatan Posyandu ini adalah masyarakat yang berada di daerah-daerah terpencil dan pedesaan, khususnya kaum perempuan dan anak, dimana akses terhadap lembaga kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit masih sangat minim.

Oleh karena itu, banyak masyarakat yang merasakan manfaat nyata dari kegiatan posyandu ini. Karena melalui kegiatan posyandu ini, banyak masyarakat di daerah terpencil yang sebelumnya tidak bisa mengakses dan menjangkau lembaga kesehatan akhirnya bisa dengan mudah mendapatkan pelayanan kesehatan. Begitu pula bagi perkembangan kesehatan ibu-ibu hamil dan balita akhirnya bisa dimonitor secara berkala oleh petugas-petugas kesehatan yang sudah diberi kewenangan.

Namun seiring berjalannya waktu, kegiatan posyandu yang awalnya begitu aktif digelar di kampung-kampung itu akhirnya juga lapuk dimakan usia. Entah mengapa kegiatan yang begitu kaya manfaat itu akhirnya juga harus mati suri. Namun palig tidak, dugaan sementara yang muncul, bahwa kegiatan posyandu mengalami penurunan karena terpengaruhi oleh situasi politik pasca lengsernya Suharto pada tahun 1998. karena sebagaimana kita ketahui, ketika reformasi bergulir, segala yang berbau orde baru pun ikut dianulir, termasuk di dalamnya posyandu.

Selain facktor huru-hara politik tersebut, nampaknya era otonomi daerah juga menjadi salah satu pemicu penurunan aktifitas posyandu. Sebagaimana kita ketahui bahwa otonomi daerah telah mensaratkan dilakukanya desentralisasi, termasuk di dalamnya desentralisasi dalam bidang pelayanan kesehatan. Sehingga akibatnya, kebijakan pelayanan kesehatan kini sudah menjadi kewenangan pemerintah daerah. Sedangkan kemampuan dan kesadaran masing-masing pemerintahan daerah terhadap pelayanan kesehatan, termasuk dalam masalah posyandu tidak sama antara satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini kemudian berakibat kepada tingkat porsentase di anggaran daerah (APBD) dalam masalah pelayanan kesehatan. Bila suatu daerah menganggarkan pelayanan kesehatan bagi masyarakatnya cukup rendah, bahkan tidak ada klausul posyandu, maka dengan begitu kegitan posyandu di daerah tersebut akan menurun. Namun begitu juga sebaliknya, bila suatu daerah menganggarkan aspek pelayanan kesehatan cukup tinggi ditambah dengan secara tegas menyebutkan program posyandu, maka kegiatan posyandu di daerah tersebut akan meningkat. Namun secara umum, pemerintah-pemerintah daerah nampaknya kurang memberi perhatian yang serius dalam masalah kesehatan ini, sehingga dalam kurun waktu pasca reformasi ini kegiatan posyandu nampak kurang bergairah.

Perlu Kerja Keras

Melihat kecenderungan pemerintah daerah yang kurang mempriorotaskan sektor kesehatan ini, pada tahun 1999 pemerintah lalu kembali berupaya menggalakkan posyandu dengan melakukan revitalisasi posyandu guna mempertahankan keberadaan posyandu. Meskipun revitalisasi posyandu telah dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi masih belum dapat dengan segera mengatasi bubarnya posyandu di daerah-daerah. Akibatnya, angka gizi buruk balita meningkat dimana-mana, penyakit polio juga merebak di beberapa daerah, sehingga pemerintah merasa “kecolongan” karena sebelumnya Indonesia sudah menyandang predikat Negara bebas polio pada zaman presiden Soeharto. Semua itu terjadi tentunya sebagai dampak menurunnya jumlah dan fungsi posyandu karena tidak ada lagi lembaga yang memonitor dan mengontrol kesehatan masyarakat terutama balita.

Fenomena inilah yang kemudian menjadi kegelisahan seorang praktisi kesehatan yang bernama Siti Fadillah Supari. Beliau selama ini memang sudah dikenal sebagai orang yang bekerja keras mendedikasikan hidupnya untuk kesehatan masyarakat Indonesia. Maka tak heran begitu beliau ditunjuk oleh Presiden Susilo bambang Yudayono sebagai menteri kesetahan RI, maka dengan cukup sigap beliau mengaktifkan kembali Posyandu. Kini semenjak Siti Fadilah Supari menjabat sebagai menteri kesehatan, gerakan posyandu dirasakan semakin meningkat, tidak hanya secara kuantitas tapi juga kualitas. Hal ini bisa dilihat dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini, peran posyadu di daerah-daerah terlihat semakin menggeliat, terbukti dengan tingkat derajat kesehatan dan status gizi masyarakat yang semakin membaik di beberapa daerah yang sebelumnya banyak dikenal sebagai daerah miskin dengan tingkat gizi buruk masyarakat yang tinggi, seperti contoh di daerah gunung kidul Yogyakarta. Hal itu ditunjukkan dengan membaiknya indikator utama kesehatan yaitu angka kematian ibu menurun dari 307 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2002-2003 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007), prevalensi gizi kurang dan gizi buruk juga menurun, dari 25.8% tahun 2005, menjadi 18.4% tahun 2007. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 di 33 Propinsi juga menunjukkan peningkatan utilisasi dan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Disini kemudian keberadaan posyandu terbukti sangat urgen karena bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah yang selama ini kurang tersentuh akses kesehatan.

Secara kelembagaan, peran posyandu juga semakin meningkat, jumlah posyandu yang berhasil diaktifkan kembali sampai dengan tahun 2006 mencapai 42.221 unit diseluruh tanah air. Selain itu jumlah posyandu purnama dan mandiri juga semakin meningkat, meskipun secara ideal jumlah posyandu mandiri masih sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat, akan tetapi meningkatnya jumlah posyandu mandiri di beberapa daerah menjadi satu indikasi keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terutama bagi ibu dan balita.

Menuju masyakarat sadar kesehatan

Pemerintah, dalam hal ini melalui menteri kesehatan sangat menyadari pentingnya keberadaan posyandu dalam rangka menjadikan masyarakat Indonesia yang sehat dan sejahtera. Untuk itulah berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk kembali menggiatkan posyandu di setiap desa atau kelurahan karena untuk membangun kesehatan masyarakat memang dibutuhkan kerja keras dan partisipasi yang tinggi dari berbagai elemen masyarakat mulai dari tingkat pusat hingga di daerah.

Posyandu seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk mengetahui perkembangan berat badan balita tapi lebih dari itu posyandu juga menjadi tempat untuk berkomunikasi dan memonitor perkembangan kesehatan masyarakat. Jika posyandu dapat berfungsi dengan baik bukan tidak mungkin kasus-kasus penyakit, gizi buruk pada bayi, yang muncul dalam masyarakat dapat segera terdeteksi sehingga dengan segera pula dapat ditangani.